Pahit itu hilang.
Rasanya berganti menjadi sedikit asam. Meninggalkan sentuhan manis, saat cairan
berwarna kecokelatan itu meluncur ke tenggorokkan.
Tangan Andy bergerak lincah. Mengubah biji hitam menjadi
buliran kasar. Memanaskan air dan memindahkannya ke sebuah katel berleher
langsing. Lekuknya serupa leher angsa. Para manual brewer menyebutnya kettle
leher angsa.
Andy menuangkan buliran kasar itu ke atas kertas putih
berbentuk kerucut. Tipisnya menyerupai kertas tissu. Hanya saja teksturnya
lebih kasar. Tidak lama kemudian, secara perlahan dia menuangkan air panas ke
atas bubuk kopi. Sedikit demi sedikit, menciptakan buih berwarna krem yang
disebut crema.
Cairan itu meresap. Asapnya mengeluarkan aroma harum yang
khas. Resapan airnya menetes melalui sudut kertas. Jatuh ke dalam katel saji
dari kaca. Warnanya kecokelatan serupa teh.
Setelah menuangkan hampir seluruh air panasnya. Andy lalu
mengambil katel saji. Menggerakkannya dengan cara memutar. Menghirup aromanya.
Lalu menuangkannya ke dalam dua gelas. Menyerahkan salah satunya kepada seorang
perempuan berparas ayu.
Perempuan itu tersenyum. Tak lama dia menyesap kopi buatan
Andy. Pria yang berprofesi sebagai arsitek itu pun melakukan hal serupa.
“Asamnya terasa tidak?” tanyanya kepada si perempuan, yang
dijawab dengan anggukkan singkat sebelum melenggang pergi. Meninggalkan senyum
puas di wajah Andy.
Andy adalah salah satu manual brewer yang turut
berpartisipasi dalam sebuah acara Cerita Kopi #1. Sebuah acara yang digelar di deQ,
salah satu coffee shop di kawasan Mohammad Toha, Bandung pada September 2015
lalu. Ratusan orang datang silih berganti. Kebanyakan kaum muda yang baru
mengenal kopi. Sebagian lagi adalah para penikmat kopi sejati yang bisa
membedakan kopi-kopi yang ditawarkan di acara tersebut.
Kopi memang tidak selamanya memiliki rasa pahit. Sebaliknya,
kopi kerap mengeluarkan rasa asam. Tidak jarang juga dia mengeluarkan aroma dan
rasa manis. Semuanya tergantung dari jenis kopi dan letak perkebunannya.
Biasanya, kopi jenis Arabika lah yang memiliki kandungan asam lebih tinggi
ketimbang Robusta.
Meski asam, Arabika memiliki rasa yang kaya. Salah seorang
manual brewer yang juga pemilik Daily Routine, Ucok mengatakan ada sekitar 800
rasa yang muncul dari Arabika. Ada asam serupa strawberry, citrus, orange,
plum. Ada juga Arabika yang menebar rasa manis serupa karamel.
“Mungkin, ratusan rasa itu muncul karena kopi memiliki
karakter menyerap aroma. Jadi, tanaman apapun yang ada di sekitar kebun kopi
terserap ke buahnya,” katanya.
Bukan hanya itu. Ratusan rasa juga kerap muncul dari
gilingan kopi dan juga cara menyeduhnya. Semakin halus gilingan, rasa yang
muncul semakin pahit. Semakin kasar, maka muncullah rasa asamnya. Dan semakin
panas air yang dituangkan ke bubuk kopi, maka karakter asam pun semakin hilang.
Itulah sebabnya, para manual brewer selalu menurunkan suhu air untuk
memunculkan karakter asli dari kopi yang akan diseduh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar